Sponsored
Sponsored
Free Edition
Verified Content
Mengapa Aku Harus Membaca?
Overview
...
Ayahku tidak seperti Mufasa.Tapi itu tidak membuat aku jadi cengeng seperti Simba. Hakuna matata, saja! Aku mempunyai ibu. Aku baik-baik saja walaupun ayahku tidak melakukan apa-apa untukku. Aku baik-baik saja walaupun ayahku tidak bisa mengantarku sekolah, tidak bisa menemaniku main sepeda, tidak bisa mengantarku ke dokter jika aku sakit, tidak bisa mengambil raporku, tidak bisa mengajak aku makan es krim, tidak bisa menemaniku menggambar.
Ayahku mungkin sudah menjadi orang sibuk sekarang. Jadi dia tidak bisa menengokku atau meneleponku sebentar saja. Aku tidak tahu kapan dia akan datang. Aku juga tidak tahu sedang apa dia di sana tepat saat ini. Aku sudah membuatkannya sebuah puisi. Puisi yang bikin ibuku menangis dan memelukku. Aku membahas tentang ketiadaan ayahku di puisiku. Tapi aku sedih sekali ketika ayahku hanya bilang,semangat terus ya Naya, terus berkarya. Aduh ayah, aku membuat puisi itu untuk ayah.
Tapi setelah aku pikir-pikir, aku tidak mau bodoh seperti Simba. Hakuna Matata! Walaupun tidak ada ayah. Walaupun ayah lupa rencananya datang, melihatku, aku bisa bertahan hidup. Duniaku belum berakhir. Aku baik-baik saja. Aku masih punya bunda dan om. Buktinya, aku masih bisa menulis, membaca, menerbitkan buku, dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Hakuna matata!
Sebagai kalimat penutup, aku punya pesan untuk semua ayah di dunia, Ayah, tolong dengarkan aku, kali ini saja. Tapi jika ayah tidak bisa, hakuna matata!
(Tidak Ada Ayah di Dekatku, Hakuna Matata Saja!)
Ayahku tidak seperti Mufasa.Tapi itu tidak membuat aku jadi cengeng seperti Simba. Hakuna matata, saja! Aku mempunyai ibu. Aku baik-baik saja walaupun ayahku tidak melakukan apa-apa untukku. Aku baik-baik saja walaupun ayahku tidak bisa mengantarku sekolah, tidak bisa menemaniku main sepeda, tidak bisa mengantarku ke dokter jika aku sakit, tidak bisa mengambil raporku, tidak bisa mengajak aku makan es krim, tidak bisa menemaniku menggambar.
Ayahku mungkin sudah menjadi orang sibuk sekarang. Jadi dia tidak bisa menengokku atau meneleponku sebentar saja. Aku tidak tahu kapan dia akan datang. Aku juga tidak tahu sedang apa dia di sana tepat saat ini. Aku sudah membuatkannya sebuah puisi. Puisi yang bikin ibuku menangis dan memelukku. Aku membahas tentang ketiadaan ayahku di puisiku. Tapi aku sedih sekali ketika ayahku hanya bilang,semangat terus ya Naya, terus berkarya. Aduh ayah, aku membuat puisi itu untuk ayah.
Tapi setelah aku pikir-pikir, aku tidak mau bodoh seperti Simba. Hakuna Matata! Walaupun tidak ada ayah. Walaupun ayah lupa rencananya datang, melihatku, aku bisa bertahan hidup. Duniaku belum berakhir. Aku baik-baik saja. Aku masih punya bunda dan om. Buktinya, aku masih bisa menulis, membaca, menerbitkan buku, dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Hakuna matata!
Sebagai kalimat penutup, aku punya pesan untuk semua ayah di dunia, Ayah, tolong dengarkan aku, kali ini saja. Tapi jika ayah tidak bisa, hakuna matata!
(Tidak Ada Ayah di Dekatku, Hakuna Matata Saja!)
36,114 currently reading
152,889 want to read
Sponsored
Sponsored
Book details & editions
| ISBN | 6239141720 |
| Publisher | Penerbit GORGA |
| Publication date | October 2019 |
| Language | Indonesian |
| Pages | 122 pages |
Sponsored
Sponsored
Ratings & Reviews
5 ★
58%
4 ★
28%
3 ★
10%
2 ★
3%
1 ★
1%
4.23
BlueReads Choice
Sponsored
Write a Review
Community Reviews
Sort by: